3 Pertanyaan Sebelum Meluncurkan Produk Skincare Pertama
Membangun brand skincare bukan sekadar memilih jenis produk, membuat desain kemasan, kemudian memasarkannya secara online. Sebelum produk pertama diluncurkan, calon pemilik brand perlu menjawab pertanyaan yang lebih mendasar: masalah apa yang ingin dibantu, siapa yang ingin dilayani, dan alasan apa yang membuat konsumen mengingat merek tersebut?
Kesalahan pada tahap awal dapat membuat produk sulit memiliki posisi yang jelas di pasar. Produk mungkin terlihat menarik, tetapi konsumen tidak memahami untuk siapa produk tersebut dibuat, masalah apa yang ingin dibantu, dan apa yang membuatnya relevan dibandingkan produk lain.
Karena itu, sebelum menentukan produk pertama, ada tiga pertanyaan penting yang sebaiknya dijawab:
- Masalah konsumen apa yang ingin dibantu?
- Mengapa produk ini berbeda atau lebih relevan?
- Mengapa konsumen harus mengingat merek melalui produk ini?
Ketiga pertanyaan tersebut dapat menjadi dasar untuk menentukan konsep produk, target konsumen, positioning, komunikasi pemasaran, hingga pengembangan brand skincare dalam jangka panjang.
1. Masalah Konsumen Apa yang Ingin Dibantu?
Pertanyaan pertama bukanlah “produk skincare apa yang sedang viral?”, melainkan:
Masalah konsumen apa yang ingin dibantu oleh produk ini?
Ini merupakan perbedaan penting ketika membangun produk pertama.
Misalnya, Anda melihat banyak produk moisturizer di marketplace. Daripada sekadar membuat produk moisturizer karena kategorinya populer, Anda dapat memulai dengan kebutuhan yang lebih spesifik: Pelajari cara membangun merek skincare melalui layanan jasa maklon.
“Wajah terasa kering dan terlihat kusam setelah seharian berada di ruangan ber-AC.”
Dari masalah tersebut, Anda dapat mulai menentukan:
- siapa target konsumennya;
- kondisi atau kebutuhannya;
- manfaat produk yang relevan;
- karakter formulasi;
- cara produk dikomunikasikan;
- hingga positioning brand.
Dengan pendekatan tersebut, produk tidak dibuat untuk “semua orang dengan semua masalah kulit”, tetapi memiliki alasan yang lebih jelas untuk hadir.
Mulai dari masalah, bukan sekadar kategori produk
Calon brand owner sering memulai dengan:
“Saya ingin membuat serum.”
Padahal, pertanyaan yang lebih strategis adalah:
“Saya ingin membantu konsumen dengan masalah apa melalui serum ini?”
Perbedaannya terlihat sederhana, tetapi dapat memengaruhi keseluruhan konsep produk.
Contohnya:
Kurang spesifik:
Serum untuk mencerahkan kulit.
Lebih terarah:
Serum ringan untuk membantu merawat tampilan kulit kusam pada konsumen dengan aktivitas padat yang menginginkan skincare praktis dan nyaman digunakan sehari-hari.
Semakin jelas masalah dan kebutuhan yang ingin dibantu, semakin mudah Anda menentukan arah produk dan komunikasi brand.
2. Mengapa Produk Ini Berbeda atau Lebih Relevan?
Setelah menemukan masalah yang ingin dibantu, pertanyaan berikutnya adalah:
Mengapa konsumen harus memilih produk Anda?
Perbedaan produk tidak selalu berarti harus menemukan bahan yang belum pernah digunakan oleh brand lain.
Dalam industri skincare, relevansi dapat dibangun melalui kombinasi beberapa aspek, seperti:
- kebutuhan target konsumen;
- tekstur dan pengalaman penggunaan;
- pemilihan bahan atau kombinasi bahan;
- bentuk produk;
- konsep formulasi;
- ukuran dan kemasan;
- cara penggunaan;
- positioning;
- serta cara brand menyampaikan manfaat produknya.
Sebagai contoh, sebuah moisturizer dapat diarahkan untuk konsumen yang banyak menghabiskan waktu di ruangan ber-AC dan menginginkan pelembap yang terasa ringan serta tidak terlalu lengket.
Konsep sederhananya dapat menjadi:
“Moisturizer ringan dengan fokus menjaga kelembapan kulit dan nyaman digunakan oleh pekerja yang beraktivitas di ruangan ber-AC.”
Namun, penting untuk membedakan antara positioning produk dan klaim yang benar-benar dapat dibuktikan.
Jika sebuah brand ingin menggunakan klaim seperti “melembapkan hingga 8 jam”, misalnya, klaim tersebut sebaiknya memiliki dasar pengujian atau bukti yang sesuai sebelum digunakan dalam komunikasi pemasaran.
Produk yang relevan tidak harus menjadi produk untuk semua orang
Salah satu jebakan ketika membuat produk pertama adalah mencoba memasukkan terlalu banyak manfaat.
Misalnya:
Mencerahkan + melembapkan + mengencangkan + mengurangi minyak + menyamarkan pori + mengatasi jerawat + anti-aging.
Secara komunikasi, pesan seperti ini justru dapat membuat identitas produk menjadi kurang jelas.
Sebaliknya, produk dapat memiliki satu kebutuhan utama sebagai pesan utama, kemudian manfaat pendukung yang tetap relevan.
Dengan begitu, konsumen lebih mudah memahami:
“Produk ini sebenarnya dibuat untuk saya karena kebutuhan saya adalah X.”
3. Mengapa Konsumen Harus Mengingat Merek Melalui Produk Ini?
Pertanyaan ketiga berhubungan dengan brand positioning.
Produk pertama sebaiknya tidak hanya berfungsi sebagai barang yang dijual. Produk tersebut dapat menjadi salah satu cara pertama konsumen memahami siapa brand Anda dan apa yang ingin Anda tawarkan.
Bayangkan sebuah brand yang sejak awal dikenal sebagai:
“Solusi skincare untuk kulit yang terasa kering dan tampak kusam setelah aktivitas seharian di ruangan ber-AC.”
Ketika positioning tersebut konsisten, konsumen memiliki asosiasi yang lebih jelas terhadap brand.
Ketika mereka mengalami kebutuhan yang sama, brand Anda memiliki peluang lebih besar untuk muncul dalam ingatan mereka.
Inilah alasan mengapa produk pertama sering kali layak diperlakukan sebagai “wajah” dari sebuah brand.
Bukan berarti produk pertama harus sempurna atau menjadi satu-satunya produk yang dijual selamanya. Namun, produk tersebut dapat menjadi titik awal untuk membangun asosiasi antara:
Masalah → Solusi → Produk → Brand
Dari Masalah Konsumen Menjadi Konsep Produk
Ketiga pertanyaan tersebut sebenarnya dapat disusun menjadi sebuah alur sederhana.
Temukan masalah
Contoh:Kulit terasa kering dan tampak kusam setelah bekerja seharian di ruangan ber-AC.
Tentukan target konsumen
Contoh:Pekerja kantoran usia produktif yang banyak menghabiskan waktu di ruangan ber-AC.
Tentukan kebutuhan utama
Contoh:Produk pelembap yang membantu menjaga kelembapan kulit dan nyaman digunakan setiap hari.
Tentukan pembeda atau relevansi
Contoh:Tekstur ringan, nyaman digunakan berulang, dan konsep formulasi yang disesuaikan dengan kebutuhan target pengguna.
Bangun positioning
Contoh:Brand skincare yang membantu merawat kulit agar tetap terasa nyaman dan terhidrasi selama aktivitas harian di lingkungan ber-AC.
Dari sini, konsep produk mulai memiliki arah yang lebih jelas.
Jangan Memulai Brand Skincare Hanya Karena Produk Sedang Viral
Tren pasar dapat menjadi salah satu sumber informasi ketika melakukan riset produk. Namun, produk yang sedang viral belum tentu sesuai dengan identitas brand atau kebutuhan target konsumen Anda.
Misalnya, sebuah bahan skincare sedang banyak dibicarakan di media sosial.
Pertanyaan yang sebaiknya diajukan bukan hanya:
“Apakah bahan ini sedang viral?”
Tetapi juga:
- Apakah bahan tersebut relevan dengan target konsumen?
- Kebutuhan apa yang ingin dibantu?
- Apakah formulasi produk dapat memberikan pengalaman penggunaan yang sesuai?
- Apa alasan konsumen memilih produk ini?
- Apakah produk tersebut dapat menjadi bagian dari positioning brand?
- Apakah klaim pemasaran yang direncanakan memiliki dasar yang memadai?
Dengan cara berpikir seperti ini, tren dapat menjadi input dalam riset, bukan satu-satunya alasan untuk membuat produk.
| Pertanyaan | Tujuan |
|---|---|
| Masalah apa yang ingin dibantu? | Menentukan kebutuhan utama konsumen |
| Apa yang membuat produk relevan? | Menentukan konsep dan pembeda |
| Mengapa brand harus diingat? | Menentukan positioning |
Kemudian lanjutkan dengan pertanyaan yang lebih praktis:
Siapa target konsumennya?
Definisikan bukan hanya berdasarkan usia, tetapi juga aktivitas, kebiasaan, kebutuhan, dan konteks penggunaan.
Produk apa yang paling tepat menjadi solusi awal?
Pilih kategori produk yang paling masuk akal untuk kebutuhan tersebut.
Apa pesan utama yang ingin disampaikan?
Hindari terlalu banyak pesan sekaligus.
Bagaimana produk ini dapat berkembang menjadi rangkaian produk?
Produk pertama idealnya memiliki peluang untuk menjadi fondasi pengembangan brand berikutnya.
Produk Pertama Tidak Harus Menjawab Semua Masalah Kulit
Salah satu prinsip penting dalam membangun brand adalah fokus.
Produk pertama tidak harus menyelesaikan seluruh kebutuhan skincare konsumen.
Justru, fokus pada kebutuhan tertentu dapat membantu brand memiliki komunikasi yang lebih mudah dipahami.
Misalnya:
Bukan:
“Skincare untuk semua jenis masalah kulit.”
Tetapi:
“Perawatan hidrasi harian untuk kulit yang membutuhkan kelembapan dan kenyamanan.”
Dari positioning tersebut, brand dapat berkembang secara bertahap ke produk lain yang masih memiliki hubungan dengan kebutuhan target konsumennya.
Dengan demikian, ekspansi produk tidak terasa seperti kumpulan produk yang berdiri sendiri, tetapi menjadi bagian dari ekosistem brand.
Setelah Konsep Jelas, Baru Masuk ke Tahap Pengembangan Produk
Setelah masalah, target konsumen, positioning, dan konsep produk mulai jelas, tahap berikutnya adalah menerjemahkan konsep tersebut menjadi produk yang nyata.
Dalam proses pengembangan produk skincare, beberapa aspek yang perlu diperhatikan antara lain:
- Konsep dan positioning produk
- Target konsumen
- Formulasi
- Pemilihan bahan dan karakteristik produk
- Kemasan
- Pengujian dan aspek keamanan
- Legalitas dan kepatuhan regulasi
- Strategi harga
- Produksi
- Strategi pemasaran dan distribusi
Untuk calon pemilik brand yang menggunakan layanan maklon skincare, tahap konsultasi dan pengembangan produk dapat menjadi ruang untuk menerjemahkan ide tersebut menjadi konsep produk yang lebih konkret.
Namun, keputusan formulasi, klaim, pengujian, produksi, dan legalitas tetap perlu ditangani sesuai prosedur teknis dan regulasi yang berlaku.
Target Konsumen
- Siapa yang ingin saya bantu?
- Apa aktivitas dan kebiasaan mereka?
- Apa kebutuhan skincare mereka?
Masalah
- Masalah apa yang paling relevan?
- Dalam situasi apa masalah tersebut muncul?
- Seberapa penting masalah tersebut bagi target konsumen?
Produk
- Produk apa yang paling tepat untuk kebutuhan tersebut?
- Apa manfaat utama yang ingin ditawarkan?
- Apa pengalaman penggunaan yang diinginkan?
Positioning
- Apa yang membuat produk ini relevan?
- Apa alasan konsumen memilihnya?
- Dalam satu kalimat, brand ini ingin dikenal sebagai apa?
Pengembangan Brand
- Apakah produk pertama dapat menjadi fondasi produk berikutnya?
- Apakah konsepnya sesuai dengan identitas brand?
- Apakah komunikasi dan klaim produknya dapat dipertanggungjawabkan?
Jika pertanyaan-pertanyaan tersebut belum memiliki jawaban yang jelas, mungkin belum waktunya langsung menentukan produk.
Kesimpulan: Jangan Sekadar Membuat Produk, Bangun Alasan untuk Diingat
Membangun brand skincare tidak dimulai dari botol, label, atau desain kemasan.
Semuanya dimulai dari alasan mengapa produk tersebut perlu ada.
Sebelum meluncurkan produk skincare pertama, pastikan Anda dapat menjawab tiga pertanyaan sederhana:
1. Masalah konsumen apa yang ingin dibantu?
2. Mengapa produk ini berbeda atau lebih relevan?
3. Mengapa konsumen harus mengingat brand melalui produk ini?
Ketika ketiga pertanyaan tersebut memiliki jawaban yang jelas, proses berikutnya—mulai dari pengembangan konsep, formulasi, kemasan, produksi, hingga strategi pemasaran—dapat memiliki arah yang lebih terstruktur.
Produk pertama bukan sekadar produk yang Anda jual. Produk pertama adalah kesempatan pertama konsumen untuk mengenal dan mengingat brand Anda.
FAQ
Apa yang harus dipikirkan sebelum membuat brand skincare?
Tentukan terlebih dahulu target konsumen, masalah atau kebutuhan yang ingin dibantu, konsep produk, positioning, serta alasan yang membuat produk relevan bagi target pasar.
Apakah produk skincare pertama harus mengikuti tren?
Tidak harus. Tren dapat digunakan sebagai salah satu bahan riset pasar, tetapi produk sebaiknya tetap memiliki relevansi dengan kebutuhan target konsumen dan positioning brand.
Apakah brand skincare harus memiliki banyak produk sejak awal?
Tidak. Brand dapat memulai dengan satu produk yang memiliki positioning jelas, kemudian mengembangkan rangkaian produk secara bertahap sesuai kebutuhan pasar dan strategi brand.
Bagaimana cara menentukan produk skincare pertama?
Mulai dari masalah dan kebutuhan target konsumen, kemudian tentukan kategori produk yang paling relevan. Setelah itu, tentukan positioning, konsep formulasi, kemasan, klaim, harga, dan strategi pemasaran.
Apa pentingnya positioning untuk brand skincare?
Positioning membantu konsumen memahami brand Anda ingin dikenal sebagai apa dan untuk siapa. Positioning yang jelas juga dapat membantu menjaga konsistensi komunikasi ketika brand berkembang.
Apakah produk pertama dapat menentukan arah perkembangan brand?
Ya. Produk pertama dapat menjadi fondasi positioning dan pengembangan produk berikutnya. Karena itu, pemilihan produk pertama sebaiknya mempertimbangkan bukan hanya peluang penjualan jangka pendek, tetapi juga arah brand dalam jangka panjang.